Kebaikan di Tangan-Mu, Yang Maha Tahu

Read Time:7 Minute, 59 Second
Kemarin, lelaki kekar itu memukul seseorang sekali hantam. Dan korbannya mati.
Semalaman dia gelisah, celingak-celinguk
mengkhawatirkan dirinya. Si korban yang tewas adalah orang Qibthi, dari
bangsa sang Fir’aun penguasa Mesir. Adapun dia dan teman-temannya dari
keturunan Ya’qub, ‘Alaihissalam, suku pendatang yang diperbudak. Penguasa kejam itu bisa berbuat hal tak terbayangkan pada sahaya-sahaya yang melanggar aturan.
Lelaki dalam cerita di Surah Al Qashash itu, Musa namanya.
Dan pagi ini, kawan yang tempo hari
dibelanya hingga dia tak sengaja menghilangkan nyawa kembali meminta
bantuannya. Lagi-lagi teman sekampung yang memang pembuat onar itu
bersengketa dengan seorang penduduk Lembah Nil. “Sungguh kamu ini
benar-benar pencari gara-gara yang sesat perbuatannya!”, hardik Musa.
Tapi Musa sukar bersikap lain.
Dicekaunya leher pria Qibthi itu, dan kepalan tangannya siap meninju.
“Wahai Musa”, kata orang itu dengan takut-takut, “Apakah kau bermaksud
membunuhku seperti pembunuhan yang kau lakukan kemarin?” Musa terhenyak.
Rasa bersalah menyergapnya, keraguan melumuri hatinya.
Cengkeramannyapun mengendur dan lepas. Melihat itu si calon korban
tumbuh nyalinya. “Kau ini memang hanya bermaksud menjadi orang yang
sewenang-wenang di negeri ini!”, semburnya.
“Hai Musa”, tetiba muncul seorang lelaki
yang tergopoh dari ujung kota, “Para pembesar negeri di sisi Fir’aun
sedang berunding untuk membunuhmu. Keluarlah segera!” Musa bimbang.
“Pergilah cepat!”, tegas orang itu, “Sungguh aku ini tulus memberimu
saran!”
Tanpa tahu jalan dan tanpa ada kawan,
Musa bergegas lari. Dengan penuh was-was dan galau dia ayunkan kaki.
Batinnya menggumamkan harap, “Semoga Rabbku memimpinku ke jalan yang
benar”. Langkahnya lebar-lebar dan tak berjeda, pandangnya lurus ke
depan tanpa menoleh. Dan setelah menempuh jarak yang jauh; memburu nafas
hingga menderu, menguras tenaga hingga lemas, memerah keringat hingga
lemah; inilah dia kini, sampai di sebuah mata air.
Negeri itu, nantinya kita tahu, bernama
Madyan. Musa melihat orang berrebut berdesak-desak memberi minum
ternak-ternak. Adapun di salah satu sudut yang jauh, dua gadis memegang
kekang kambing-kambingnya yang meronta, menahan mereka agar tak mendekat
ke mata air meski binatang-binatang itu teramat kehausan tampaknya.
Musa nantinya akan disifati sebagai
lelaki perkasa oleh salah seorang gadis itu. Bukan tersebab dia
menceritakan kisahnya yang membunuh dengan sekali pukul, melainkan
karena dalam lapar hausnya, lelah payahnya, takut cemasnya, serta asing
kikuknya; Musa sanggup menawarkan bantuan. Orang yang masih mau dan
mampu menolong di saat dirinya sendiri memerlukan pertolongan adalah
pria yang kuat.
Musa melakukannya.
Musa menggiring domba-domba itu ke mata
air. Ketika dilihatnya ada batu menyempitkan permukaan situ, dia sadar
inilah salah satu sebab orang-orang harus berdesak-desakan. Maka dengan
sisa tenaga, diangkatnya batu itu, disingkarkannya hingga sumur itu
lapang tepiannya. Lagi-lagi Musa membuktikan kekuatannya. Bahwa pria
perkasa tidak mengharapkan imbalan dan ganjaran dari manusia.
Tanpa bicara lagi dan tak menunggu
ungkapan terimakasih, Musa berlalu seusai menuntaskan tugasnya. Dia
menggeloso di bawah sebuah pohon yang kecil-kecil daunnya. Rasa lelah
melinukan tulangnya dan rasa lapar mencekik lambungnya. Kemudian dia
berdoa, “Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqiir.
Duhai Pencipta, Pemelihara, Pemberi Rizqi, Pengatur Urusan, dan
Penguasaku; sesungguhnya aku terhadap apa yang Kau turunkan di antara
kebaikan amat memerlukan.”
***
 Karena desakan hajat yang memenuhi
jiwa; sebab keinginan-keinginan yang menghantui angan; kita lalu
menghadap penuh harap pada Allah dengan doa-doa. Sesungguhnya meminta
apapun, selama ianya kebaikan, tak terlarang di sisi Yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang. Bahkan kita dianjurkan banyak meminta. Sebab yang
tak pernah memohon apapun pada Allah, justru jatuh pada kesombongan.
“Kita dianjurkan untuk meminta kepada
Allah”, demikian Dr. ‘Umar Al Muqbil menggarisbawahi tadabbur atas doa
Musa setelah menolong dua gadis Madyan itu, “Baik hal kecil maupun hal
besar”. Dalam kisah ini, sesungguhnya Musa yang kelaparan hendak meminta
makanan. Cukup baginya, seandainya dia meminta jamuan kepada orang yang
dia telah diberikannya jasa. Cukup baginya, sekiranya dia mengambil
imbalan atas kebaikannya.
Tetapi Musa mengajarkan pada kita tiga
hal penting dalam doanya. Pertama, bahwa hanya Allah yang layak
disimpuhi kedermawananNya, ditadah karuniaNya, dan diharapi balasanNya.
Mengharap kepada makhluq hanyalah kekecewaan. Meminta kepada makhluq
hanyalah kehinaan. Bertimpuh pada makhluq hanyalah kenistaan.
Apapun hajat kita, kecil maupun besar,
ringan maupun berat, remeh maupun penting; hanya Allah tempat mengharap,
mengadu, dan memohon pertolongan.
Pelajaran kedua dari Musa adalah adab.
Bertatakrama pada Allah, pun juga di dalam doa, adalah hal yang
seyogyanya kita utamakan. Para ‘ulama menyepakati tersyariatkannya
berdoa pada Allah dengan susunan kalimat perintah, sebagaimana banyak
tersebut dalam Al Quran maupun Sunnah. Ia benar dan dibolehkan. Tetapi
contoh dari beberapa Nabi dalam Al Quran menunjukkan ada yang lebih
tinggi dari soal boleh atau tak boleh. Ialah soal patut tak patut. Ialah
soal indah tak indah. Ialah soal adab.
Maka demikian pulalah Musa, ‘Alaihis Salam.
Dia tidak mengatakan, “Ya Allah berikan.. Ya Allah turunkan.. Ya Allah
sediakan..”. Dia merundukkan diri dan berlirih hati, “Duhai Rabbi;
Penciptaku, Penguasaku, Penjamin rizqiku, Pemeliharaku, Pengatur
urusanku; sungguh aku, terhadap apa yang Kau turunkan di antara
kebaikan, amat memerlukan.”
Yang ketiga, bahwa Allah dengan ilmuNya
yang sempurna lebih mengerti apa yang kita perlukan dan apa yang baik
bagi diri ini daripada pribadi kita sendiri. Musa menunjukkan bahwa
berdoa bukanlah memberitahu Allah apa hajat-hajat kita, sebab Dia Maha
Tahu. Berdoa adalah bincang mesra dengan Rabb yang Maha Kuasa, agar Dia
ridhai semua yang Dia limpahkan, Dia ambil, maupun Dia simpan untuk
kita.
Maka Musa tidak mengatakan, “Ya Allah
berikan padaku makanan”. Dia pasrahkan karunia yang dimintanya pada ilmu
Allah yang Maha Mulia. Dia percayakan anugrah yang dimohonnya pada
pengetahuan Allah yang Maha Dermawan. Diapun mengatakan, “Rabbi, sungguh
aku, terhadap apa yang Kau turunkan di antara kebaikan, amat
memerlukan.”
***
Gadis itu berjingkat dalam langkah
malu-malu. Dia tutupkan pula ujung lengan baju ke wajah sebab sangat
tersipu. Musa masih di sana, duduk bersahaja. Tepat ketika bayangan
berkerudung itu menyusup ke matanya, lelaki gagah ini menundukkan
pandangan.
“..Sesungguhnya Ayahku memanggilmu agar dia dapat membalas kebaikanmu yang telah memberi minum ternak-ternak kami..” (QS Al Qashash [28]: 25)
Allah yang merajai alam semesta memiliki
jalan tak terhingga untuk memberikan karuniaNya kepada hamba. Baik
untuk yang meminta maupun diam saja, yang menghiba maupun bermasam muka,
yang yakin maupun tak percaya; limpahan rahmatNya tiada dapat
dihalangi. Allah yang menguasai segenap makhluq memiliki cara tak
terbatas untuk menghadirkan penyelesaian bagi masalah hambaNya. Allah
yang menggenggam seluruh wujud, mudah bagiNya memilihkan sarana terbaik
untuk menjawab pinta dan menghadirkan karunia.
Maka jangan pernah mengharap balasan itu datang dari orang yang pada kitalah budinya terhutang.
Tapi dalam kisah ini, Allah pilihkan
jawaban doa dan balasan kebaikan melalui orang yang padanya Musa telah
menghulurkan bantuan. Bukan sebab tiadanya jalan lain, melainkan karena
Allah memang hendak menghubungkan Musa dengan mata air kebaikan yang
telah disiapkanNya bagi tugas besarnya kelak. Sebuah keluarga terpilih,
yang akan menjadi tempatnya mendewasa dan jadi titik tolak kenabian dan
kerasulannya.
Untuk kita insyafi agar diri hanya menggantungkan asa kepada Allah ‘Azza wa Jalla,
bahwa tak selalu Dia membalas kebaikan melalui orang yang menerima
pertolongan kita. Hanya, mungkin saja itu terjadi. Sebab ada kebaikan
yang Allah persiapkan di balik itu, berlipat-lipat, bergulung-gulung.
Seperti yang dialami Musa.
“Berjalanlah di belakangku”, sahut Musa,
“Dan berilah isyarat terhadap arah yang kita tuju.” Kita tahu, nanti
Musa akan dijuluki sebagai ‘Yang Tepercaya’ karena ucapan ini. Sungguh
memang, betapa tepercaya lelaki muda yang tetap menjaga pandangannya,
pada gadis asing yang jelita, yang mendatanginya untuk kemudian berjalan
hanya berdua.
Maka hari itu berubahlah hidup Musa.
Sang pelarian dari Mesir menemukan tambatan hidup. Di rumah seorang
bapak tua dari negeri Madyan, dia dijamu makan, dilingkupi perlindungan,
diberi tempat tinggal, ditawari pekerjaan, kemudian nantinya
dinikahkan, dan akhirnya diberi tugas kenabian.
Musa meminta makanan dengan tatakrama
yang baik. Yaitu, dia pasrahkan kebaikan apapun yang hendak diberikan
Allah padanya ke dalam cakupan ilmuNya. Musa meyakini bahwa apapun yang
akan dikaruniakan Allah padanya adalah lebih baik dari semua dugaan
dalam permohonannya. Maka Allah memberinya kelimpahan tak terbayangkan.
Demikianlah Allah, Rabb yang Maha
Pemurah. Bahkan apa yang kita tak pernah memintanya, Dia tak pernah alpa
memberikannya. Maka pada tiap doa, sesungguhnya kita diharap bersiap
untuk menerima yang lebih baik, lebih banyak, dan lebih indah. Di dunia
maupun akhirat. Sebab hanya di tanganNyalah segala kebaikan. Sebab
Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
***
“Aku tak pernah mengkhawatirkan apakah
doaku akan dikabulkan”, demikian ‘Umar ibn Al Khaththab pernah berkata.
“Sebab setiap kali Allah mengilhamkan hambaNya untuk berdoa, maka Dia
sedang berkehendak untuk memberi karunia.”
“Yang aku khawatirkan adalah”, lanjut ‘Umar, “Jika aku tidak berdoa.”
Takkan terasa manisnya kehambaan, hingga
kita merasa bahwa bermesra pada Allah dalam doa itulah yang lebih
penting dari pengabulannya. Takkan terasa lezatnya ketaatan, hingga kita
lebih mencintai Dzat yang mengijabah permintaan kita, dibanding wujud
dari pengabulan itu.
Inilah lapis-lapis keberkahan.
Seperti Musa, di lapis-lapis keberkahan
kita berlatih untuk meyakini bahwa segala kebaikan ada dalam genggaman
Allah. Di lapis-lapis keberkahann, kita juga belajar bahwa ilmu Allah
tentang kebaikan yang kita perlukan adalah pengetahuanNya yang sempurna,
jauh melampaui kedegilan akal dan kesempitan wawasan kita. Maka di
antara jalan berkah adalah, rasa percaya yang diwujudkan dalam
tatakrama.
Di lapis-lapis keberkahan, kita mengeja
iman dan adab itu dalam doa-doa. Dan inilah firmanNya yang Maha Mulia
menutup renungan kita dengan lafal doa yang penuh makna:
“Katakan: duhai Allah, pemilik
kerajaan maharaya, Engkau berikan kekuasaan kepada sesiapa yang Kau
kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan itu dari siapa saja yang Kau
kehendaki. Engkau muliakan sesiapa yang Kau kehendaki, dan Engkau
hinakan siapa jua yang Kau kehendaki. Di tanganMulah segala kebaikan.
Sesungguhnya, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau memasukkan
malam ke dalam siang dan Kau benamkan siang ke dalam malam. Engkau
mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan Kau seruakkan yang mati dari
yang hidup. Dan Engkau mengenugrahi rizki pada siapapun yang Kau
kehendaki tanpa terbatasi.” (QS Ali ‘Imran [3]: 26-27)

#lapislapiskeberkahan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas